Di Atas Langit Marapi

 



Sesekali kita perlu menepi dari hiruk pikuk duniawi, dari ramainya isi kepala dan hati. Dan menyepi ke tempat terpencil bisa jadi pilihan terbaik. Pergi kemanapun yang kita ingin dan di sanalah kita lebih mengenal diri sendiri. Atau setidaknya untuk mendapatkan rasa damai yang sudah lama hilang dan tak pernah terasa lagi.

Mendaki gunung lebih dari sekedar hobi. Dari mendaki gununglah saya menemukan kesenangan saya sendiri. Dari proses yang berat untuk sampai ke puncak saya mendapatkan banyak pelajaran tentang bagaimana menjalani hidup yang lebih baik, lebih damai dan lebih ringan. Saya bisa mengekspresikan diri saya. Ketika lelah dengan dunia, ketika penat dengan pikiran, ketika muncul rasa ingin menyerah ternyata yang dibutuhkan hanya istirahat dan menepi sejenak.

Rabu, 25 Mei 2022 ekspedisi dimulai. Dari Kota Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi, saya bersama empat teman melakukan perjalanan menuju Pasar Kotobaru di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Kami berangkat tepat jam delapan malam dengan menumpang bus kelas ekonomi dan ongkos sebesar Rp. 110.000,-. Setelah kurang lebih sebelas jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pasar Kotobaru, lokasi terdekat menuju salah satu pos pendakian ke Gunung Marapi. Pendakian ini kami lakukan berempat, satu dari teman saya tidak ikut karena lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama istri tercinta di Bukittinggi.

Dari pinggir jalan, mengandalkan petunjuk yang ada dan tentu saja Google Maps yang masih kami percayai padahal sering sekali menyesatkan perjalanan kami, pagi itu kami memutuskan untuk langsung menuju Pos Pendakian Marapi via Kotobaru. Berjalan lebih kurang setengah jam dan kami anggap sebagai pemanasan sebelum pendakian, akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang kami kira Pos Pendakian. Namun ternyata itu hanya rumah warga yang kebetulan juga familiar dengan para pendaki yang akan menuju Marapi. Kami berbincang mengenai banyak hal dengan pemilik rumah. Ketika sarapan dan mempersiapkan segala kebutuhan pendakian, kami diperingatkan bahwa jalur pendakian Marapi via Kotobaru sebenarnya masih tutup karena adanya permasalahan pengelolaan jalur pendakian. Namun Pak Sigit, pemilik rumah itu berkata bahwa kami bisa saja tetap melakukan pendakian dari sana, lagipula selain dekat dari lokasi kami berada, jalur ini juga merupakan jalur termudah menuju puncak katanya.

Dengan informasi seadanya dan mengandalkan kepercayaan kepada Pak Sigit, kira-kira jam sembilan kami melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian. Kami masih harus berjalan kurang lebih lima belas menit sampai kemudian mendapati bahwa memang pos pendaftaran pendakian via Kotobaru ini kosong, tidak ada penjaga, tidak ada pendaki lain.

Kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan, namun beberapa langkah setelah memasuki gerbang pendakian, kami ditegur oleh salah satu petani yang mungkin juga pengurus dari Pos Kotobaru ini. Beliau melarang keras kami melanjutkan perjalanan dari sini dan mengatakan tidak akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa kami. Kami yang awalnya semangat dan ingin berkeras mendaki dari sini mengingat waktu dan tenaga yang sudah terbuang akhirnya lemah juga ketika diperingatkan seperti itu. Kami sadar bahwa kami adalah tamu dan kami harus tetap menghargai penduduk lokal dengan segala aturannya. Akhirnya kami mundur dan mengubah rencana untuk melakukan pendakian melalui pos lain yaitu Pos Batu Palano.

Mengingat jarak yang sangat jauh dari Kotobaru ke Batu Palano, kami mencoba untuk meminta bantuan kepada seorang pemuda yang kebetulan lewat untuk menumpang motornya menuju ke pasar, mencari kendaraan yang bisa mengangkut kami menuju Batu Palano. Salah satu teman diberikan tumpangan dan dengan keahlian komunikasinya karena dia juga adalah orang Minang akhirnya dia bisa mendapatkan mobil yang dapat mengantarkan kami menuju Pos Pendakian Batu Palano. Berbagai hambatan yang kami alami diawal tidak menyurutkan semangat kami. Justru itu menjadi cerita yang melengkapi perjalanan ini.

Perjalanan kami lanjutkan, dengan menumpang mobil kijang kotak yang pasti jauh lebih tua usianya dari kami semua. Kami dihantar menuju Pos Pendakian Batu Palano dengan memakan waktu kurang lebih sekitar setengah jam. Karena ini bukan hanya sekedar menumpang kami pun menanyakan berapa tarif yang diminta oleh pemilik mobil, dan akhirnya kami dikenakan Rp. 200.000,- saat itu. Tidak jadi masalah, bagi kami yang penting kami sudah berada di jalur yang benar, sisanya kami anggap itu sebagai bentuk kami ingin membantu masyarakat lokal dengan segala usahanya.

Saya bergegas menuju Pos Pendakian dan melakukan pendaftaran. Tidak seperti Kerinci yang sangat detail dan merepotkan ketika pendaftaran, disini semua lebih mudah dan tidak terlalu ketat. Biaya administrasi yang dikenakan sebesar Rp. 15.000,- per orang. Setelah itu, tepat jam sepuluh pagi kami baru benar-benar melakukan pendakian Gunung Marapi. Berbagai cerita, tawa dan canda mengiringi perjalanan kami. Sesekali kami beristirahat sekedar menikmati hutan yang masih asri dengan suara-suara burung yang menenangkan hati.

Perjalanan ke dalam hutan selalu menyenangkan untuk saya pribadi. Disini, di tengah hutan ini saya benar-benar merasakan hidup. Tenang dan jauh dari keramaian membuat saya dapat bicara dengan diri sendiri. Segala beban hati dan pikiran kadang terlintas namun disini saya merasa bahwa saya bahagia.

Singkat cerita, proses pendakian dari pintu rimba sampai ke batas vegetasi yang dinamakan Area Cadas Marapi memakan waktu kurang lebih 5 jam. Prosesnya tidak bisa dibilang mudah ataupun sulit. Tapi jujur, pendakian Gunung Marapi masih sangat bersahabat terutama untuk para pendaki pemula. Satu hal yang menjadi catatan saya saat itu adalah sumber air sulit didapatkan dan beruntung kami membawa persediaan yang cukup untuk perjalanan. Sampah plastik berserak di sepanjang jalur pendakian juga membuat saya tidak nyaman. Dalam hati saya hanya beberapa kali terpaksa mengumpat karena benar-benar kesal dengan bentuk sikap tidak bertanggungjawab para pendaki yang hanya tau senang-senang tapi tidak punya etika menjaga alam.

Jam tiga sore saya bersama salah satu teman, Rendi namanya sudah sampai di Area Cadas. Kami masih menunggu dua teman lain yaitu Zul dan Bang Ides untuk sampai di Area Cadas karena mereka memang tertinggal di belakang. Setelah kurang lebih satu jam menunggu sambil menikmati pemandangan Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek dari Area Cadas akhirnya mereka sampai.

Ada cerita lucu disini. Area Cadas sebenarnya bisa dipakai untuk camping. Beberapa tenda milik pendaki lain juga terlihat sudah berdiri disini. Hanya saja dengan pertimbangan puncak masih jauh dan biar sekalian saja rasa lelah kami habiskan hari ini juga, maka saya dan Rendi terpaksa berbohong kepada Zul dan Bang Ides bahwa camping ground di Area Cadas ini sudah penuh dan kami harus terus berjalan sampai ke Area Puncak untuk bisa mendirikan tenda disana. Kasihan sebenarnya karena memang pendakian ini memakan begitu banyak energi mereka. Namun jika berkemah di Area Cadas, saya yakin mereka tidak akan mau mendaki lagi esok hari menuju Puncak. Oleh sebab itu, demi kebaikan bersama akhirnya kami semua melanjutkan pendakian menuju Puncak.

Kira-kira jam empat sore saya mendahului menuju puncak karena juga mencoba mencari jalur yang tepat untuk diikuti teman-teman di belakang. Jalur yang kami lewati ini benar-benar cadas, batu tajam dan banyak sekali kerikil, pasir dan debu yang membuat semakin sulit. Maklum saja, Gunung Marapi memang salah satu gunung api sehingga area puncaknya berupa batuan. Jalurnya tidak terlalu terlihat dan saya hanya mencoba berjalan mengikuti arah pendaki lain yang turun dari puncak.

Benar bahwa semakin ke atas angin bertiup semakin kencang dan dingin mulai menyelimuti perjalanan. Saya melihat teman-teman saya tertinggal jauh di bawah, bahkan Zul dan Bang Ides sama sekali tidak terlihat. Tapi saya yakin mereka semua bisa menuntaskan perjalanan ini. Beberapa kali saya berhenti mengambil napas yang mulai menipis, berbincang dengan pendaki lain yang turun dari puncak dan tentu menikmati landscape yang tersaji di hadapan saya. Sungguh Tuhan Maha Agung dengan segala ciptaanNya dan saya bersyukur bisa menikmatinya dari sini. Sepanjang perjalanan saya juga mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan moment yang saya lewati. Sekali lagi disini saya sadar siapa diri saya, apa yang membuat saya bahagia dan apa yang saya inginkan. Alam benar-benar memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Alam juga yang menyediakan ruang bagi saya untuk lebih mengenal diri sendiri.

Satu jam dari Area Cadas dengan sisa tenaga dan usaha yang keras akhirnya saya sampai di Tugu Abel tepat jam lima sore. Saya melihat Bendera Merah Putih berkibar disana dan rasa haru pun tertumpah. Namun tidak lama karena saya langsung sadar bahwa ini bukan puncak. Sial, perjalanan belum usai gumam saya dalam hati. Yaa, Tugu Abel adalah tanda bahwa kami memasuki area puncak namun belum berada di puncak yang sebenarnya. Ada dua puncak di Marapi ini yaitu Puncak Merpati dan Puncak Garuda, sementara Tugu Abel ini berada tepat di tengah antara dua puncak tersebut.

Setelah cukup beristirahat, saya berinisiatif untuk berkeliling area itu dan menemukan bahwa area puncak ini luas sekali. Dari Kota Bukittinggi atau dari manapun kalian melihat Gunung Marapi, area Puncak Marapi ini terlihat datar dan memang ketika berada di atas sini, wilayahnya datar berbatu, berpasir dan berdebu. Saya mencari lokasi terbaik untuk mendirikan tenda dan saya menemukan satu area datar dan luas seperti lapangan sepak bola dan memang ini adalah camping area. Sayangnya tenda dibawa oleh Rendi dan saya masih harus menunggu dia sampai di puncak. Masih harus menahan dingin dari terpaan angin, saya mencoba berlindung di balik batu besar dan diberi kesempatan untuk menikmati senja dari atas sini.

Kira-kira jam enam Rendi baru sampai dan kami bergegas membangun tenda. Saat itu dia bercerita bahwa pendakian menuju puncak tadi menjadi yang paling sulit dan dingin yang hebat sempat membuatnya hampir menyerah. Satu pelajaran penting, kita harus tetap berjalan bersama ketika mendaki karena tidak tau apa yang mungkin terjadi pada diri kita sendiri dan teman kita.

Usai mendirikan tenda, Zul dan Bang Ides sampai dan syukurlah mereka baik-baik saja. Segera setelah semua berada ditenda, kami mencoba melawan dingin dengan membuat minum hangat. Hari sudah malam dan kami bercerita tentang banyak hal dalam proses pendakian hari ini. Saya mendengarkan mereka dan sesekali tertawa atas apa yang mereka tuturkan. Saya benar-benar menikmati hari itu dan merasa senang karena bisa membawa mereka ikut serta ke tempat ini, merasakan pengalaman ini.

Saya lelah, setelah membersihkan diri dan persiapan tempat untuk tidur, segera saya masuk ke sleeping bag untuk mencari kehangatan. Mereka masih ingin memasak nasi dan mie instan namun saya sama sekali tidak tertarik untuk makan. Akhirnya saya tidur lebih dulu sementara mereka masih mengobrol tentang segala hal.

Fajar menjelang dan alarm berbunyi jam lima pagi. Saya bangun selain karena alarm juga karena merasa lapar. Saya mencoba mencari peralatan untuk memasak mie instan dan ketika membuka tenda saya terkejut melihat nasi dan mie instan yang teman-teman saya buat semalam dibuang begitu saja. Saya yakin ada yang tidak beres namun saya segera masuk kembali untuk memasak. Persediaan air hampir habis dan kami terpaksa berhemat karena tidak ada sumber air di sini. Ketika memasak, Zul terbangun dan saya akhirnya memilih untuk membuat minum hangat dulu untuk kami lalu kembali melanjutkan memasak mie instan. Dia bercerita bahwa tenda kami sempat rusak karena terpaan angin semalam, namun saya sama sekali tidak sadar karena tertidur pulas sampai pagi.

Ketika saya makan, Bang Ides terbangun dan membuka misteri tentang terbuangnya nasi dan mie instan semalam. Dan yaa, itu karena eksperimen yang dilakukan Zul memasak nasi dan mencampurnya langsung dengan bumbu instan nasi goreng. Semalam sebelum memutuskan tidur, saya melihat itu semua. Beberapa kali saya mengingatkan apakah mereka bisa memasak nasi (liwet) dan mereka mengatakan bisa. Saya juga melihat Zul dengan yakin bereksperimen dan memasukkan bumbu instan nasi goreng ke dalam beras yang sedang dimasak dan mereka semua yakin itu akan menjadi sajian yang lezat. Karena melihat itu semualah, akhirnya saya memilih tidak ikut makan dan  ingin tidur. Dari Bang Ides pagi itu saya hanya bisa tertawa mendengar kegagalan mereka dan yaa itulah yang saya lihat, nasi dan mie yang terbuang sia-sia karena tidak cukup layak untuk dinikmati.

Pagi itu setelah minum dan sarapan, sekitar jam 6 kami berempat memutuskan untuk Summit Attack menuju Puncak Marapi dengan ketinggian 2891 mdpl. Dengan segala persiapan untuk melawan dingin, kami berjalan beriringan. Pagi itu cuaca cerah sekali dan kami sekali lagi disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Saya bisa melihat bayangan Piramida Gunung Marapi karena matahari pagi sudah muncul dari balik gunung ini. Luar biasa besar dan bayangan piramid itu terlihat sangat jelas. Kemudian dalam perjalanan itu kami juga melihat kawah Marapi dan Danau Singkarak dari kejauhan yang terlihat sangat kecil.

Lebih kurang setengah jam kami berjalan melawan angin, akhirnya kami sampai di Puncak Merpati. Dari sini semua terlihat sangat jelas. Rasa syukur, haru dan bangga menyelimuti saya saat itu. Hanya saja satu hal yang saya cari tidak ada disini yaitu plakat yang biasanya ada di setiap puncak gunung dan menjadi semacam piala bagi setiap pendaki yang mencapainya. Namun tidak jadi masalah, setelah mengambil beberapa foto bersama teman-teman, kami melanjutkan perjalanan mengelilingi kawah dan menuju Puncak Garuda di seberang. Ohya, Bang Ides menyerah di tengah perjalanan menuju puncak dan memilih kembali ke tenda.

Dalam perjalanan dari Puncak Merpati ke Puncak Garuda, saya melihat kawah yang masih aktif. Begitu besar dan sangat gagah bagi saya. Yaa, gagah adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang saya lihat. Beberapa foto saya ambil dan sampai sekarang saya masih takjub melihat pemandangan itu. Beberapa saat saya, Rendi dan Zul sampai di Puncak Garuda namun langsung melanjutkan perjalanan kembali menuju tenda.

Sesampai di tenda, ternyata Bang Ides berbaik hati karena telah menyiapkan sarapan untuk kami. Nasi dan sarden telah disiapkan dan kami tinggal menyantapnya. Sungguh sarapan kali ini terasa begitu nikmat. Setelah sarapan kami langsung bergegas membereskan semua perlengkapan dan bersiap untuk turun dari gunung. Persediaan air yang menipis menjadi kekhawatiran saya. Oleh sebab itu kami tidak bisa berlama-lama disini.

Sekitar jam delapan pagi kami memulai perjalanan turun. Dan turun menjadi tantangan yang berat bagi saya pribadi. Batuan yang masih labil ketika dipijak membuat saya beberapa kali terjatuh. Beberapa oleh-oleh saya dapatkan dalam proses turun ini. Telapak tangan yang berdarah karena batuan dan saya tidak menggunakan sarung tangan, pergelangan tangan kiri yang terkilir karena menjadi tumpuan ketika terjatuh dan celana yang sobek karena cadasnya batuan yang ada di sana. Syukur bagi saya karena ketika jatuh itu tidak terseret lebih jauh karena mengerikan sekali jurang cadas di kanan dan kiri saya saat itu. Tuhan masih sangat baik kepada saya dan saya sadar untuk harus lebih berhati-hati.

Dalam perjalanan turun pun kami beberapa kali beristirahat, minum kopi, memasak mie lagi dan lagi. Kondisi di gunung bisa dibilang adalah tentang menerima keadaan yang apa adanya dan bersyukur karena masih punya itu semua. Sebab itu kami tidak pernah mengeluhkan apapun. Kami menerima semua dengan apa adanya dan mensyukurinya.

Kami juga sempat bertemu dengan pendaki lain dari Aceh. Salah satu dari mereka ternyata masih duduk di bangku SMP dan mereka berencana melakukan ekspedisi mendaki tujuh gunung dalam satu bulan dan Marapi menjadi gunung keempat yang telah mereka daki. Salut dari saya untuk mereka karena kekuatan tekad dan fisik yang mereka miliki. Setelah turun dari Marapi mereka akan langsung menuju ke Singgalang dan Tandikek yang juga masih berada di Sumatra Barat, tepatnya di seberang Gunung Marapi. Bersama mereka saya bercerita banyak hal terutama tentang ketertarikan pada alam, gunung dan berbagai pengalaman dalam petualangan selama ini. Mereka pun mengundang saya untuk ikut dalam pendakian Gunung Leuser di Aceh pada 17 Agustus tahun ini. namun saya langsung menolak karena saya tau proses pendakiannya memakan waktu sangat panjang dan melelahkan. Dari mereka saya tau, untuk menyelesaikan pendakian Gunung Leuser di Aceh bisa memakan waktu sampai 20 hari. Luar biasa.

Perjalanan tidak terasa sulit ketika memasuki area hutan sampai ke pintu rimba. Sekitar jam 2 saya bersama beberapa teman dari Aceh sudah berada di bawah dan saya langsung membersihkan diri dengan mandi di toilet umum yang tersedia. Benar-benar segar ketika mandi dan rasa lelah hilang begitu saja. Setelah itu barulah teman-teman yang lain sampai di Pos Pendakian dan mereka juga segera membersihkan diri.

Kami disuguhi Kopi Gayo khas Aceh oleh teman-teman pendaki tadi dan ini jadi bentuk persahabatan kami. Satu hal yang menjadi perhatian saya setiap kali naik gunung adalah setiap orang di gunung merupakan teman, sahabat dan saudara. Kita tidak mengenal satu sama lain tapi saling peduli dan memberikan semangat untuk semua orang. Inilah salah satu pelajaran yang dapat diambil dari sekian banyak pelajaran hidup lain yang gunung berikan.

Hari itu, Jumat 27 Mei 2022 kami menyelesaikan Misi Pendakian Gunung Marapi di Sumatra Barat dan hari itu juga kami memutuskan untuk kembali ke Bangko. Sabtu subuh kami sudah berada di Bangko, membawa serta rasa lelah yang masih tersisa, rasa syukur yang begitu besar dan pengalaman yang tak akan terlupakan.

Terimakasih Marapi atas cerita yang terukir indah. Terimakasih atas mentari pagi yang cerah dan suguhan pemandangan yang menakjubkan ketika berada di Puncak. Terimakasih atas segala pelajaran dan pengalaman yang telah diberikan.

Dan terkhusus pagi itu di Puncak Merpati 2891 mdpl, terimakasih Tuhan atas segala kesempatan dan kehidupan yang telah terlewati tepat selama Dua Puluh Enam Tahun.

 

Marapi, 27 Mei 2022

 

Sebuah perjalanan panjang

Tentang proses, tantangan dan rasa lelah

Tentang tujuan, mimpi, cita dan harapan

Tentang rasa syukur atas segala hal

Dan tentang hidup seorang manusia..

 

:: petruswidiyanto ::


Komentar

Postingan Populer