Tertempa Di Dempo
Tidak semua kisah berlangsung dengan mulus. Tidak
semua perjalanan melalui jalur yang lurus. Kadang kita diharuskan bersabar
sebelum sampai ke tujuan. Kadang semua rencana harus berubah bahkan buyar
ketika dihadapkan pada kenyataan.
Tahun ini menjadi tahun yang paling mengesankan bagi
saya. Setelah perjalanan hidup yang cukup panjang, sepertinya saya telah menemukan
sesuatu untuk dijalani, sesuatu yang bisa disebut hobi, sesuatu yang tanpanya
hidup berasa tidak berarti. Salah satunya mendaki gunung. Jangan ditanya
mengapa saya jadi suka naik gunung, karena saya sendiri tidak tau jawaban
pastinya. Yang jelas, mendaki gunung jadi seperti candu yang mengikat dan sulit
sekali saya lepaskan. Selesai gunung yang satu, besok gunung yang lain sudah
seperti memanggil untuk didaki. Memang saya tergolong baru dalam hobi ini.
Terhitung baru tiga gunung yang sudah saya daki yaitu Gunung Tujuh di Kerinci, Gunung
Kerinci dan Gunung Marapi di Sumatra Barat. Sementara Agustus ini saya
berencana untuk mencapai puncak keempat yaitu Atap Sumatra Selatan, Gunung Dempo
di Pagaralam.
Rencana pendakian Gunung Dempo akhirnya menemui
jalan realisasinya. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kabar gembira dari
adik saya yang masih menjalankan studi di Universitas Sriwijaya Palembang. Dia
memberi kabar akan melaksanakan yudisium dan wisuda pada 23-24 Agustus 2022.
Sebagai kakak yang baik dan mengingat jarak yang tidak terlampau jauh dari
tempat saya bekerja ke Kota Palembang, saya berusaha untuk dapat menghadiri
acara tersebut. Hari itu juga saya segera mengajukan cuti dan puji Tuhan direstui
oleh atasan saya di Kantor.
Senin, 22 Agustus 2022 sekitar pukul lima sore saya memulai
perjalanan menuju Palembang. Setelah menempuh waktu selama empat belas jam dari
Bangko, akhirnya saya sampai di rumah kakak saya sekitar pukul tujuh pagi. Di sana
ternyata sudah ada kedua orangtua saya, kakak laki-laki saya (anak ketiga),
kakak perempuan saya (anak kelima) beserta suami dan anaknya dan tentu saja
adik saya yang merupakan bungsu dari kami tujuh bersaudara. Mereka telah siap
berangkat dan hanya menunggu saya karena memang baru saja sampai. Setelah mandi
dan persiapan seadanya, saya langsung masuk ke mobil yang akan membawa kami
menuju ke kampus Universitas Sriwijaya yang terletak di Indralaya, Kabupaten
Ogan Ilir. Perjalanan ini rasanya seperti bernapak tilas karena kampus ini
pulalah yang memberikan pendidikan kepada saya selama empat tahun menempuh
studi di Jurusan Administrasi Negara beberapa tahun yang lalu. Perjalanan
berlangsung satu jam dan cukup bagi saya untuk menikmatinya dengan tertidur
pulas melepas penat setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Acara berjalan
dengan lancar dan dengan demikian usai sudah tanggungjawab kedua orangtua saya
dalam hal mendidik anak-anaknya di lembaga pendidikan formal. Saya berseloroh,
yang diwisuda kali ini sebenarnya bukan hanya adik saya, namun kedua orangtua
saya karena keberhasilan mereka mendidik kami anak-anaknya.
Selepas yudisium dan wisuda adik saya, di sela waktu
bersama keluarga tercinta, saya meminta izin kepada orangtua untuk menghabiskan
sisa waktu cuti saya dengan mendaki Gunung Dempo di Pagaralam. Hal itu karena
keinginan untuk mendaki Gunung Dempo telah saya rencanakan dan kebetulan saat
ini saya berada di Palembang yang membuat jarak menuju Pagaralam tidak terlampau
jauh. Ditambah dengan saya yang masih memiliki waktu cuti agak panjang. Akan terlalu
disayangkan jika hanya berada di rumah dan tidur-tiduran saja. Mendengar saya
ingin ke Gunung Dempo, kakak ipar dan adik saya pun tertarik untuk ikut serta.
Namun karena alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sebagai tenaga
kesehatan, akhirnya kakak ipar saya memutuskan untuk tidak ikut, sementara adik
saya memang tidak diizinkan oleh orangtua dan kakak saya mengingat dia memiliki
alergi terhadap cuaca dingin. Belum lagi dia juga belum punya persiapan apapun
termasuk fisiknya. Karena alasan tersebutlah akhirnya saya hanya
diizinkan untuk pergi seorang diri dari Palembang. Namun apakah saya akan sendirian
mendaki Gunung Dempo? Tentu tidak.
Keesokan harinya saya memulai ekspedisi menuju Pagaralam. Dengan moda transportasi kereta api saya melakukan perjalanan menuju Kabupaten Lahat. Kenapa ke Lahat? Begini penjelasannya. Jalur kereta api di Sumatra Selatan menghubungkan Kota Palembang dan Kota Lubuklinggau. Melewati beberapa kabupaten/kota namun sayang sekali tidak melalui Kota Pagaralam, tempat yang seharusnya saya tuju. Oleh karena itulah saya harus berhenti di Lahat yang menjadi titik terdekat menuju Pagaralam. Saya berangkat dari Palembang tepat jam sembilan pagi dengan ongkos kereta api sebesar Rp 29.000,-. Ekonomis sekali bukan? Sesuai dengan kelas kereta apinya, yaitu kelas ekonomi. Untuk teman-teman yang juga tertarik menggunakan layanan kereta api, saya sarankan untuk memesan tiket melalui aplikasi saja. Selain menghemat waktu juga menghemat tenaga. Tidak rumit, apalagi kalau teman-teman sudah menerima vaksin booster maka semua akan menjadi lebih mudah karena tidak lagi perlu menunjukkan hasil negatif tes rapid antigen saat check in di stasiun keberangkatan. Suasana perjalanan dengan kereta api juga sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun yang lalu. Bersih, nyaman dan menyenangkan.
Setelah perjalanan selama empat jam, saya sampai di
Kota Lahat disambut dengan panasnya terik matahari. Dan begitu saya turun dari
kereta, saya melihat rekan saya yang sudah duduk manis menunggu kehadiran saya.
Citra. Dia akan menjadi salah satu partner yang akan ikut serta menuju puncak
Sumatra Selatan kali ini. Kenapa salah satu? Sebab masih ada yang lainnya
nanti. Citra berangkat dari tempatnya bekerja yaitu Tebing Tinggi, Kabupaten
Empat Lawang, juga dengan kereta api namun dari arah yang berlawanan. Untuk
kalian yang sudah mengenal saya secara pribadi, pasti kalian juga sudah tau
siapa Citra. Jadi tidak perlu dijelaskan panjang lebar di sini. Saya khawatir
tulisan ini malah akan melenceng ke cerita asmara ketimbang petualangan.
Dari stasiun, kami berdua ingin sejenak menghibur diri dengan menonton film di
bioskop yang ada di Kota Lahat. Film kedua Pengabdi Setan yang disutradarai
oleh Joko Anwar menjadi pilihan kami atau lebih tepatnya pilihan saya karena
saya masih terkesima dengan kesuksesan film pertamanya beberapa tahun lalu.
Setelah menonton film dan makan siang, kami kemudian melanjutkan perjalanan
menuju Kota Pagaralam sekitar pukul lima sore dengan menaiki travel dan ongkos
sebesar Rp 35.000,- per orang. Sedikit saran bagi kalian jika akan menuju
Pagaralam dari Lahat, setidaknya bersiaplah dan berangkat sejak siang atau
paling lambat pukul lima sore. Karena saat itu kami tergolong beruntung masih bisa
mendapatkan bangku di travel terakhir karena memang sudah terlalu
sore. Kalian dapat dengan mudah menemukan travel menuju Pagaralam di sepanjang
jalan depan Gereja Katolik Santa Maria Lahat hingga RSUD Lahat.
Setelah perjalanan yang tidak terlalu panjang, kami tiba di Kota Pagaralam pukul tujuh malam dan langsung dijemput oleh Ko Roland, saudara sepupu dari kakak ipar saya di Palembang. Ko Roland inilah yang akan menjadi partner kedua sekaligus sebagai penunjuk jalan menuju ke Puncak Dempo. Malam itu kami langsung dihantar menuju rumah orangtua dari kakak ipar saya yang akan menjadi basecamp kami selama berada di Pagaralam. Memang semua serba kebetulan dan seolah mendukung rencana pendakian Dempo terlaksana. Saya sama sekali tidak khawatir berada di sini karena bisa dibilang masih memiliki keluarga yang dapat membantu kami dalam persiapan menuju Puncak Dempo. Sesampai di rumah, kami langsung membersihkan diri, menyantap makan malam yang telah disediakan kemudian beristirahat.
Jumat pagi sekitar jam sembilan partner ketiga saya sampai di Pagaralam. Rendi. Kalau kalian ingat, dia juga ikut serta saat pendakian Gunung Marapi di Sumatra Barat beberapa waktu lalu. Dia adalah teman saya di kantor dan ketika saya mengajaknya untuk mendaki Gunung Dempo, tanpa pikir panjang dia mengamini dan langsung berangkat menuju Pagaralam. Jadi pendakian Gunung Dempo kali ini akan kami laksanakan berempat dan akan dimulai esok hari. Sementara hari ini kami hanya mengisi waktu dengan bercengkrama bersama keluarga, mempersiapkan logistik, packing semua keperluan pendakian serta persiapan fisik dan mental. Sementara sore harinya kami berjalan-jalan di kebun teh yang terhampar di kaki Gunung Dempo, sejenak menikmati alam yang sejuk dan hijau. Kami menghabiskan waktu dengan bermain otoped menyusuri jalanan di kebun teh, memandang matahari tenggelam, menikmati waktu yang ada sebelum esok hari kami akan berhadapan dengan ganasnya jalur pendakian Gunung Dempo yang tersohor dengan jalur tanpa ampun dan tanpa bonus di kalangan pendaki yang sudah pernah kesana.
Sekian lama berjalan, kami mulai memasuki semak belukar kemudian kawasan kebun teh lama yang sudah tidak lagi produktif. Keterangan dari Ko Roland, area ini dulunya merupakan area pembibitan teh yang akan ditanam di kaki Gunung Dempo. Namun setelah bertahun-tahun ditinggalkan sekarang area ini akan lebih tepat jika disebut dengan hutan teh karena tumbuhan teh yang ada di sini sudah berubah menjadi pohon yang tinggi, berbeda dengan yang berada di kawasan kebun teh yang masih produktif di bawah. Karakter jalur yang kami lalui di area ini masih sama, kami harus melalui licinnya tanah berlumpur yang terbentuk karena aliran air yang turun dari atas gunung. Beberapa kali carrier yang kami bawa tersangkut ranting pohon teh dan semak belukar yang membentuk seperti sebuah lorong panjang.
Usai sarapan, tepat pukul sepuluh pagi kami
melanjutkan perjalanan menuju Shelter I. Diluar dugaan saya ternyata jarak dari
Pintu Rimba ke Shelter I cukup jauh. Jalur yang kami lalui masih cenderung
landai dan normal. Tidak terlalu menguras tenaga dan kami masih cukup menikmati
perjalanan. Rimbunnya pepohonan membuat kami terlindungi dari panasnya sinar
matahari namun sepertinya kami dipaksa bersahabat dengan tanah yang masih basah
karena guyuran hujan tadi malam. Oh iya, sama seperti di Gunung Marapi di
Sumatra Barat, jalur pendakian Gunung Dempo ditandai dengan adanya tulisan Asmaul
Husna. Sembilan Puluh Sembilan nama-nama baik dari Allah / Tuhan yang terpasang
di pohon dengan jarak beberapa puluh meter inilah yang akan menuntun kami
hingga ke Pelataran, tempat kami akan mendirikan tenda untuk beristirahat nanti
malam. Sungguh, adanya Asmaul Husna ini sangat membantu pendaki supaya tidak
tersesat dan menemukan jalan yang benar. Jalan menuju puncak Gunung Dempo tentu
saja. Setelah satu setengah jam berjalan dari Pintu Rimba, kami akhirnya sampai
di Shelter I dan menjumpai beberapa tenda berdiri di sana.
Di Shelter I atau di Gunung Dempo disebut dengan Peghaduan Kecik yang artinya tempat istirahat kecil ini juga terdapat mata air yang tidak terlalu jauh jaraknya. Sebenarnya kalian tidak perlu khawatir dengan ketersediaan air bersih di jalur pendakian Gunung Dempo. Di setiap shelter hingga Pelataran tersedia sumber air yang dapat dimanfaatkan para pendaki bahkan bisa langsung diminum. Di Shelter I sekali lagi kami beristirahat, memakan beberapa cemilan untuk mengisi energi dan berbincang seru dengan pendaki lain berbagi cerita tentang pengalaman masing-masing.
Menikmati udara yang segar, suara alam yang
menenangkan dan sesekali perbincangan manusia yang terdengar dari kejauhan
menjadikan keberadaan saya di tengah hutan ini terasa sangat menyenangkan. Di
sini kita bisa tenggelam dalam diri kita sendiri. Mengingat perjalanan hidup
yang telah terlewati, mengingat masa lalu yang mungkin indah, mengingat mantan
yang menyakitkan atau mengingat apapun yang kita inginkan. Bebas tapi terbatas.
Di dalam hutan, kita tidak boleh terlalu larut dalam keheningan, takutnya kita
bisa hilang konsentrasi dan malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Di
alam, kita harus tetap waspada dengan segala kemungkinan. Ada kebebasan tapi
tentu ada aturan. Di hutan manapun atau di gunung manapun pasti hidup cerita,
mitos atau bahkan fakta mengenai berbagai hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan. Tidak boleh melamun, tidak boleh berbicara sembarangan, tidak boleh
mengeluh, tidak boleh mengumpat dan tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak dan
berbagai ketidakbolehan lainnya. Sebenarnya semua itu bukan sesuatu yang harus
diperdebatkan eksistensinya. Cukup dengan kita menghargai nilai-nilai dan
aturan itu karena kita sendiri adalah tamu di alam yang luas ini. Lagipula tidak
ada salahnya kan? Malah sepertinya semua aturan itu pada dasarnya baik dan dapat membantu kita untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana. Jadi paling tidak
sepulang dari berpetualang, ada nilai dan pelajaran yang bisa kita ambil untuk
diterapkan lebih lanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah beristirahat cukup lama di Shelter I, kami
melanjutkan perjalanan menuju ke perhentian selanjutnya, yaitu Dinding Lemari. Samakin
lama, perjalanan terasa semakin berat. Jalur yang kami lalui mulai berubah
menjadi tanjakan-tanjakan curam dan istilah mendaki gunung mulai berubah
menjadi memanjat gunung. Jalur tanpa ampun yang diungkapkan para pendaki mulai
terbukti dari sini. Kami diharuskan memanjat akar-akar pohon untuk melewati
beberapa tanjakan vertikal dengan sudut kemiringan hingga sembilan puluh
derajat.
Pukul setengah dua, setelah makan siang dan cukup
beristirahat, sebelum rasa kantuk menghampiri, kami melanjutkan perjalanan
menuju Shelter II. Semakin ke atas, jalur yang dilewati tidak menjadi lebih
mudah. Justru sebaliknya menjadi semakin menyiksa fisik dan mental dengan jalur
pendakian yang menukik tajam. Suasana di Dempo masih sama seperti Kerinci atau
Marapi. Vegetasi yang didominasi pepohonan tinggi dan besar khas hutan hujan
tropis, suara burung yang bersahutan dan jalur pendakian yang terbentuk dari
aliran air yang turun dari atas gunung. Jadi bisa diperkirakan ketika hujan,
jalur ini akan berubah menjadi sungai kecil dan membentuk air terjun di
beberapa tanjakan. Mau bagaimana lagi. Semua itu tidak bisa kami hindari, hanya
bisa untuk dinikmati walau terpaksa. Cuaca di Bulan Agustus ini juga masih
sangat labil. Kadang hujan, kadang panas, kadang ada, kadang menghilang. Yaa,
kurang lebih samalah seperti dia yang kau cinta.
Setelah berjalan selama satu jam, akhirnya kami
sampai juga di Shelter II yang disebut dengan Peghaduan Besak atau tempat
peristirahatan besar. Memang area Shelter II ini lebih luas dari Shelter I yang
dapat dimanfaatkan oleh pendaki untuk mendirikan tenda. Tempat ini mungkin bisa
menampung sekitar lima sampai sepuluh tenda. Ada satu rombongan besar yang
berasal dari OpenTrip Palembang yang memutuskan berkemah di Shelter II. Jumlah
mereka yang mencapai kurang lebih 50 orang membuat Shelter ini penuh dan ramai.
Oleh karena itu pendaki lain yang baru datang terpaksa melanjutkan perjalanan
untuk dapat mendirikan tenda di Pelataran. Namun sesuai rencana awal, memang
kami mengejar bisa langsung sampai ke Puncak Dempo dan mendirikan tenda di
Pelataran. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju titik
selanjutnya yaitu Cadas. Langit mulai mendung dan kami hanya bisa berdoa semoga
tidak sampai hujan ketika kami masih dalam perjalanan.
Baru saja didoakan, baru saja berjalan, ternyata alam berkehendak lain. Gerimis mulai turun dan kami harus mempersiapkan diri menghadapi hujan yang lebih deras. Alam memang benar-benar tidak bisa ditebak. Namun kita sebagai manusia juga tidak bisa melawan, hanya bisa mengantisipasi. Percuma mengeluh karena toh memang tidak semua hal harus berjalan seperti yang kita inginkan. Dan benar saja, tidak berapa lama hujan langsung turun dengan derasnya. Waduh, tanpa hujan saja jalur sudah sangat sulit karena berlumpur dan licin, bagaimana dengan nasib kami nanti? Gumam saya dalam batin. Saking derasnya kami terpaksa berhenti di pinggir jalur pendakian dan mencari tempat datar untuk berlindung sementara. Kami berempat berkumpul kemudian Ko Roland mengeluarkan flysheet plastik yang seharusnya menjadi pelindung tenda untuk menjadi perlindungan sementara kami dari derasnya hujan. Kami membentangkan flysheet itu di atas kepala kami, sambil menundukkan kepala dan tertawa getir satu sama lain. Kemudian suasana menjadi sunyi, entah apa yang ada di benak kami masing-masing, yang terdengar saat itu hanya suara petir dan deru hujan yang menerpa kami. Tapi saya rasa, kami semua merasakan hal yang sama. Rasa takut, khawatir, pesimis ditambah dengan dingin dan hujan yang tak kunjung berhenti.
Selama satu setengah jam fisik kami benar-benar ditempa.
Di tengah hujan yang masih cukup deras, kami harus merayap dari akar yang satu
ke akar yang lain, mencoba memanjat dinding tanah di hadapan kami, terpeleset
dan jatuh karena licinnya jalur, namun semua itu memang harus kami jalani untuk
bisa sampai ke puncak. Tidak ada kata yang lebih tepat selain “sengsara”
yang dapat menggambarkan apa yang kami alami dalam perjalanan ini. Hari
sudah sore, matahari sama sekali tidak terlihat. Yang ada di hadapan kami hanya
kabut putih dan tebal yang menghalangi pandangan. Situasi seperti ini akan sangat rentan menyesatkan pendaki. Untuk mengantisipasi supaya tidak
tersesat, kedinginan dan kelelahan berlebih, kami memilih untuk berjalan
beriringan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kami harus saling bersabar
karena kekuatan fisik setiap orang berbeda. Terutama Ko Roland juga sudah pernah
mengalami cedera pada lutut dan pahanya. Sementara Citra juga adalah perempuan
sendiri di antara kami berempat. Di sepanjang perjalanan, tidak ada keluh kesah
yang keluar dari mulut kami karena sepertinya kami menyimpan semua itu dalam
hati dan pikiran masing-masing supaya tidak mempengaruhi teman yang lain. Lelah
sudah sama-sama lelah, sebab itu jangan sampai kita menambah beban orang lain
dengan keluh kesah yang kita lontarkan. Dalam situasi berat seperti itu, seberapapun
besarnya rasa ingin menyerah, sebisa mungkin kita harus tetap memberikan
semangat untuk yang lain. Karena mungkin saja dengan melihat orang lain menjadi
bersemangat karena kita, itu juga bisa menjadi pemacu semangat untuk diri kita
sendiri. Bingung? Coba dibaca sekali lagi.
Pukul setengah lima sore kami sampai di area Cadas.
Dari namanya saja, kalian pasti sudah tau bahwa area ini berupa batuan keras dan
licin yang harus kami lalui. Tidak ada pilihan lain, kami harus tetap maju dan
merangkak pelan menuju ke atas supaya tidak terpeleset. Masih ditemani dengan
setia oleh rintik hujan, kami berjalan melawan arus air dan mencoba bertahan
dari dinginnya kabut saat itu. Di Cadas inilah Ko Roland mengalami kram pada
betisnya karena salah melangkah. Sejenak saya mendampinginya sementara Rendi
dan Citra tetap perlahan naik ke atas.
Saya dan Ko Roland duduk dan bersandar pada pohon
yang ada di situ, bercerita tentang parahnya jalur pendakian Dempo sambil
tertawa getir meratapi nasib. Bukan penghiburan yang datang dari Ko Roland,
malah disampaikan bahwa ini masih belum selesai, masih ada penderitaan yang
lebih besar di depan Cadas katanya. Ko Roland sudah beberapa kali mendaki
Gunung Dempo. Sejak masih duduk di bangku SMP dia sudah akrab dengan Puncak
Gunung Dempo, sementara pendakian terakhir dilakukannya ketika tahun 2020. Kecintaan
pada Gunung Dempo dan pengalaman pendakiannya selama ini adalah dua hal yang
membuat saya yakin akan bisa mencapai Puncak Dempo bersamanya kali ini. Dia
juga menyampaikan dari puluhan kali mendaki Dempo, baru ini terkena kram dan
pendakian kali ini terasa lebih sulit dari sebelum-sebelumnya. Mungkin karena
faktor usia katanya.
Masih dihajar dengan jalur yang ekstrem dan dengan sisa kekuatan yang ada akhirnya tepat pukul enam sore kami sampai di Puncak Dempo. Namun apakah perjalanan usai begitu saja? tidak teman-teman. Untuk kalian ketahui, Gunung Dempo memiliki dua puncak, yaitu Puncak Dempo dan Puncak Merapi yang lebih tinggi dari Puncak Dempo. Saat itu kami sampai di Puncak Dempo. Setelah selebrasi singkat dan berfoto kami melanjutkan perjalanan turun ke Pelataran untuk mendirikan tenda disana. Pelataran adalah dataran luas yang berada di antara dua puncak Gunung Dempo berupa sabana dengan pepohonan kerdil khas puncak gunung termasuk tumbuhan cantigi yang tumbuh subur memenuhi area itu. Hari sudah gelap ketika kami turun ke Pelataran dan dalam perjalanan saya mendengar adzan maghrib berkumandang dari arah Pelataran. Saya salut dengan teman-teman yang masih taat beribadah hingga mengumandangkan adzan maghrib di sana. Meniti jalan turun ketika hari sudah gelap bukanlah perkara yang mudah. Lelah mendaki bukan berarti kami akan diberi bonus jalan yang lebih mudah ketika turun ke Pelataran. Jalur batuan dan berlumut menjadikan kami harus lebih waspada untuk melangkah. Begitu sampai ke Pelataran sekitar jam setengah tujuh malam, kami bergegas mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda. Setelah beberapa saat, saya menemukan tempat yang menurut saya aman, berada di antara pepohonan yang semoga akan cukup melindungi tenda kami dari badai yang bisa terjadi kapan saja. Hari sudah gelap membuat proses pendirian tenda sedikit lebih sulit. Tenda yang saya bawa juga merupakan tenda yang baru saya beli sebelum pendakian ini sehingga memerlukan waktu untuk mempelajari pemasangannya. Sedikit lebih rumit namun saya sangat yakin dengan kekuatan dan kenyamanannya. Consina Magnum 4 menjadi tenda yang saya pilih untuk menemani setiap petualangan saya. Sambil terus berusaha membangun tenda dan melawan cuaca dingin yang meliputi kami, akhirnya satu tenda sudah berdiri dan kami mendirikan satu tenda lagi untuk Citra. Setelah dua tenda berdiri dan flysheet terpasang dengan rapi dan kuat, kami lanjut membersihkan diri dan berganti pakaian karena pakaian kami semua basah kuyup akibat hujan sejak di Shelter II. Beruntung bagi kami karena angin bertiup tidak terlalu kencang di Pelataran, hanya hawa dingin yang masih sangat terasa. Selesai membersihkan diri, saya lanjut membereskan bagian teras tenda, menyusun logistik dan peralatan kemudian memasak air untuk membuat minuman hangat. Rendi langsung masuk ke sleeping bagnya dan tidur karena energinya drop dan sakit kepala sementara Citra dan Ko Roland mulai memasak mie instan untuk makan malam. Saya merasa senang sekali dengan situasi di tenda saat itu. Kami benar-benar mampu mendirikan tenda dan menyusun peralatan serapi mungkin dan tenda kami menjadi tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali. Bahkan saya mengungkapkan kalau seperti ini keadaannya, sepertinya tinggal dua malam di sini tidak akan menjadi masalah. Setelah makan malam, minum hangat dan bercerita perihal proses pendakian tadi, kami semua segera masuk ke sleeping bag masing-masing untuk beristirahat memulihkan energi yang telah terkuras habis dan mempersiapkan diri untuk summit attack ke Puncak Merapi Dempo esok pagi. Ada perubahan rencana yang seharusnya Citra berada di tenda tersendiri namun mengingat faktor keamanan Ko Roland menyarankan dia untuk tidur bersama saya dan Rendi, sementara yang berada di tenda terpisah adalah Ko Roland.
Langit sudah terang ketika saya membuka mata.
Terlihat rintik hujan masih saja menghiasi suara di luar tenda kami, sementara
Citra dan Rendi masih pulas. Dari luar saya mendengar sepertinya Ko Roland juga
sudah bangun. Saya memutuskan untuk keluar dan mendapati ternyata ada kesalahan
ketika pemasangan flysheet sehingga
bagian depan teras tenda basah karena air hujan yang masuk. Saya berusaha
mengeringkan lantai yang saya buat dari flysheet
plastik yang Ko Roland bawa dengan kaos dan celana yang saya gunakan kemarin.
Sekalian basah ujar saya ke Ko Roland. Setelahnya, Ko Roland keluar untuk
mengisi botol air dan saya melanjutkan memasak air untuk membuat minum hangat
melawan dinginnya pagi itu. Sumber air di Pelataran melimpah dan cukup dekat
dengan perkemahan. Setelah membuat minum hangat, Citra dan Rendi juga sudah
bangun, saya bergantian untuk membersihkan diri. Tidak ingin berjalan lebih
jauh, saya hanya memanfaatkan air hujan yang tertampung pada flysheet di belakang tenda untuk membasuh
wajah dan menggosok gigi. Setelahnya, kami semua sarapan dengan roti bakar yang
saya buat dengan alat seadanya, walaupun gosong tapi tetap terasa nikmat. Entah
roti bakar atau roti goreng tepatnya karena saya menggunakan minyak goreng
bukan mentega. Sebenarnya hanya supaya tidak lengket saja, tapi entah bagaimana
tetap saja lengket dan gosong hasilnya.
Pemandangan menakjubkan tersaji di hadapan kami.
Kawah aktif berwarna hijau yang masih terselimuti kabut terlihat sangat cantik.
Ditambah dengan curamnya tebing-tebing cadas di sekeliling puncak yang membuat
saya takjub. Akhirnya kami mencapai puncak dan saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk melihat semua keindahan alam dari atas sini. Rasa lelah yang
mendera seketika terlupakan. Di belakang kami pun tidak kalah cantik dengan
pemandangan lautan awan. Cukup lama kami berada di puncak. Mengabadikan
berbagai momen yang mungkin tak akan pernah kami temui di tempat lain atau di
waktu yang lain.
Terjadi moment menggetarkan hati sekaligus
mengharukan bagi saya. Beberapa rekan pendaki lain yang sampai di puncak
langsung mengumandangkan adzan di bibir kawah menghadap ke arah kawah. Betapa
setiap orang memiliki rasa syukurnya masing-masing atas kesempatan yang Tuhan
berikan kepada kami semua untuk sampai di tempat itu. Sahut menyahut adzan
berkumandang dan sesekali kabut menepi seolah memberi izin kepada kami untuk menyaksikan keindahannya. Kami masih berharap akan disuguhi perubahan warna yang biasanya
terjadi pada air kawah. Namun kawah justru semakin tertutup kabut dan
sepertinya tidak ada harapan bagi kami untuk melihat kawah lagi. Oleh karena
itu, setelah beberapa saat menunggu, kami pun memutuskan untuk turun kembali ke
tenda.
Perjalanan turun dari Puncak Merapi Dempo menjadi
tantangan tersendiri terutama untuk Citra. Kakinya pendek, begitu ujarnya. Hal
itu menyebabkan dia kesulitan untuk melangkah lebih cepat. Di samping itu,
beberapa batuan yang masih labil dapat membuat terperosok sehingga sangat membahayakan. Karenanya, Rendi dan Ko Roland mendahului kami turun, sementara saya
terus mendampingi Citra meniti jalan perlahan sampai ke tenda. Begitu sampai ke
tenda ternyata Rendi dan Ko Roland sudah menjemur peralatan kami, membereskan
semua perlengkapan dan membongkar tenda. Mengingat waktu yang sudah siang maka kami
tidak bisa berlama-lama lagi. Sementara kami membereskan segala perlengkapan,
Citra memasak mie instan lagi. Kali ini mie goreng dengan telur ceplok mata
sapi dan nugget goreng. Menu yang spesial sekali untuk mengisi kembali energi
kami. Sebuah kesederhanaan yang benar-benar terasa mewah di tengah segala
keterbatasan. Setelah sarapan dan packing
semua barang, kami pun bersiap turun dan memulai perjalanan sekitar pukul
setengah satu siang. Duhh, ini sih bukan kesiangan lagi. Saat itu yang saya
khawatirkan adalah turunnya hujan lagi dan kami masih berada di hutan ketika
hari sudah malam.
Perjalanan turun dari Puncak Gunung Dempo
benar-benar menjadi bagian tersulit dalam keseluruhan petualangan kali ini. Tanjakan-tanjakan
yang kami lalui ketika berangkat berubah menjadi seperti jurang yang siap menelan
ketika kami turun. Hampir di sepanjang jalur dari puncak hingga ke Shelter I
mengharuskan kami untuk bergelantungan di akar-akar pohon. Setiap kali ingin
turun, saya harus berhenti agak lama memandang ke bawah dan mempertimbangkan
jalur mana yang bisa dilewati. Bukan memilih jalur mana yang paling mudah,
karena Dempo tidak menyediakan opsi itu. Saya hanya memilih jalur mana yang
paling masuk akal untuk dapat ditapaki.
Beberapa kali harus terbanting dan jatuh karena
licinnya jalur. Sekali lagi memang karena keterbatasan yang ada saya harus
mendampingi Citra untuk turun dan itu membutuhkan waktu yang lebih lama dari
rekan yang lain. Kami berdua berjalan paling terakhir. Tidak ada pendaki lain,
baik yang turun maupun yang naik. Suasana cukup mencekam namun sekali lagi kami
menyimpannya dalam hati masing-masing. Kami hanya terus saling memberi semangat
dan tetap konsentrasi menapaki langkah demi langkah. Sesekali memang Rendi dan
Ko Roland menunggu kami sambil beristirahat. Namun karena tidak tega jika harus
menunggu lama, saya menyarankan mereka untuk mendahului kami dan menunggu saja
di Dinding Lemari. Hujan sempat turun saat perjalanan. Ada satu moment ketika
turun saya hampir terjatuh dari atas namun masih selamat karena berhasil
menggenggam erat akar pohon yang ada di hadapan saya. Namun akibat kejadian itu
lengan kiri saya terasa lebih sakit seperti terkilir.
Namun bagaimana pun saya salut dengan Citra. Di tengah
berbagai keterbatasan dan habisnya energi, tidak sekalipun dia mengeluh, marah
atau kesal dengan keadaan yang ada. Saya yakin rasa lelahnya lebih besar dari
kekuatannya namun saya juga yakin semangatnya jauh lebih besar untuk
menyelesaikan perjalanan ini. Sesekali senyum masih menghiasi wajahnya, seperti
berusaha menguatkan dirinya sendiri dan menyampaikan kepada saya bahwa dia
baik-baik saja meski saya hanya menatap dan tidak bertanya apa-apa. Meski agak
lambat namun kami terus berjalan hampir tanpa henti.
Sampai di Dinding Lemari hari sudah benar-benar sore,
sekitar pukul lima dan langit mulai gelap. Sebenarnya hujan sudah reda dan saya
ingat moment saat itu Citra melepaskan jas hujan namun dengan cara merobeknya
sampai tidak bisa digunakan lagi. Dan bertepatan dengan itu pula, ketika kami
akan lanjut berjalan hujan turun dengan begitu derasnya. Saya memandang Citra
dengan tatapan kecewa namun dia membalas pandangan saya dengan raut
menyedihkan. Seperti minta maaf namun tidak terucap. Tidak ada yang bisa
dilakukan. Saya mengumpat dalam hati. Saya pun memberikan jas hujan satu-satunya
untuk dia pakai sementara saya menahan diri dengan hanya menggunakan jaket dan
berharap jaket saya mampu menahan derasnya air hujan yang turun. Tepat pukul
enam sore ketika langit berada di antara terang dan gelap kami sudah berada di
Shelter I. Perjalanan masih jauh untuk menuju Pintu Rimba. Saya ingat
perjalanan naik dari Pintu Rimba ke Shelter I saja kemarin memakan waktu hingga
satu setengah jam. Kali ini perjalanan turun pasti membutuhkan waktu yang
kurang lebih sama. Belum lagi jalur yang licin dan hujan yang masih menyertai membuat
jalur semakin sulit untuk dilalui karena lebih beresiko terpeleset dan jatuh. Belum
lagi hari yang sudah malam membuat jalan yang kami lalui benar-benar gelap
gulita.
Pikiran saya berkecamuk. Berbagai kemungkinan buruk
dan ketakutan meliputi saya saat itu. Saya ingat kata seorang pendaki yang kami
temui di Dinding Lemari tadi juga mengungkapkan pengalamannya tersesat di
perjalanan turun karena hari sudah malam dan menyarankan pada kami untuk
berjalan lebih cepat supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Percaya atau tidak, namun memang sudah banyak pengalaman tersesat yang dibagikan
oleh para pendaki, setidaknya dari yang saya simak melalui obrolan para pendaki maupun berbagai informasi di media yang sempat saya simak sebelum melakukan pendakian ini. Bahkan kebanyakan dari mereka mengaitkan
kejadian itu dengan hal-hal berbau mistis yang menyelimuti Gunung Dempo. Namun kami
benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Sejak Shelter I kami terus berjalan
beriringan dan tidak saling meninggalkan. Semua demi keamanan dan keselamatan
bersama karena kita benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi dan semua hal
bisa saja menimpa kami termasuk hal-hal yang buruk dan tidak kami inginkan.
Hari yang sudah gelap total, rasa lelah dan dingin akibat kehujanan memaksa
kami untuk terus berjalan tanpa henti. Rendi juga berbaik hati dengan
membawakan ransel Citra karena kami semua cukup khawatir dengan keadaan Citra
yang ternyata menahan sakit kepala sejak turun dari Shelter II dan sudah
terlihat pucat. Belakangan baru saya tau ternyata malam itu adalah hari pertama dia datang bulan. Saya pun menjadi semakin khawatir.
Di tengah sulitnya menapaki perjalanan turun, saya
menahan air mata yang membuat dada semakin sesak. Rasanya benar-benar ingin
menyerah. Tapi melihat ketiga rekan saya, yang ada dipikiran saya saat itu
hanya bagaimana supaya bisa turun dengan selamat sambil berdoa semoga tidak
terjadi apa-apa. Sesekali kami saling menyemangati dan menenangkan, padahal
saya yakin pikiran kami masing-masing sudah berkemelut. Dalam situasi seperti
ini memang kita harus terus berjalan bersama. Jangan sampai ada yang terpisah.
Saya menuntun paling depan, Rendi dibelakang saya kemudian diikuti Citra dan Ko
Roland. Perjalanan malam itu semakin sulit karena senter yang dibawa hanya ada
dua, milik saya dan Citra.
Perjalanan panjang, sulit dan menegangkan akhirnya mencapai Pintu Rimba sekitar pukul setengah delapan malam. Bisa kalian bayangkan bagaimana kondisi dan situasi di tengah hutan saat jam segitu dengan modal penerangan hanya dua headlamp kecil. Kami terduduk sejenak karena lega sekaligus terlalu lelah setelah berjalan tanpa henti dari Shelter I. Namun semakin lama duduk rasa dingin semakin membelenggu. Sebab itu kami bergegas untuk lanjut turun menuju Pos BRIKADE. Kalau kalian ingat ketika proses naik kemarin kami harus melalui kebun teh lama yang sekarang menjadi seperti hutan teh karena pohonnya sudah tinggi dan rimbun. Dan sama seperti kebun teh pada umumnya, hutan ini juga membentuk lajur-lajur yang sangat mungkin menyesatkan pendaki. Berbagai mitos pun menyelimuti area ini dan memang area inilah yang paling ditakutkan para pendaki termasuk saya dan Ko Roland karena merupakan area yang paling berpotensi membuat pendaki tersesat kalau salah memilih jalur. Namun tanpa memikirkan lagi hal-hal buruk sambil terus berdoa dalam hati, saya mencoba untuk fokus menyusuri jalan di hadapan saya dengan mengikuti arah aliran air. Saya juga terbantu dengan adanya bekas jejak sepatu pendaki lain yang pasti sebelumnya juga melewati jalur ini. Dan memang benar terjadi ketika di satu moment saya bingung memilih jalur sampai harus bertanya kepada Ko Roland yang berada di posisi paling belakang. Dia hanya menjawab ikuti jalur air dan dan yakin saja bahwa jalurnya benar. Lepas dari hutan teh kemudian kami memasuki semak belukar dan sekali lagi kekhawatiran bahwa kami tersesat singgah di kepala saya. Namun saya terus berjalan sampai akhirnya bertemu dengan hijaunya kebun teh. Spontan saya berteriak “Puji Tuhan Kebun Teh.” dan disambut bahagia oleh teman-teman yang lain.
Dengan sisa tenaga yang ada kami terus berjalan dan
sampai di Pos BRIKADE tepat pukul sembilan malam. Lega sudah dan
saya terharu karena telah sampai di sini dengan selamat. Rasa lega diiringi
dengan kekuatan fisik yang terkuras habis. Alam benar-benar mampu melucuti
saya. Setelah melepaskan carrier dari pundak, saya langsung muntah-muntah karena sudah tidak
tahan dihajar ganasnya jalur pendakian Dempo selama dua hari ini. Dempo
benar-benar mampu meremukkan pertahanan fisik dan mental saya saat itu. Tenaga habis
terkuras sampai batas terakhir, ketakutan yang terus menyelimuti pikiran dan
keinginan yang besar untuk menyerah di tengah jalan. Dari Dempo saya diajarkan untuk
tidak sombong dengan apa yang saya punya. Kenyataannya, kekuatan kita sebagai
manusia biasa ternyata tidaklah seberapa dan dengan mudah bisa dihancurkan oleh
alam.
Perjalanan panjang dan penuh tantangan pada akhirnya
akan membentuk diri kita. Entah menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung
bagaimana kita menyikapinya. Apakah menjadi lebih tangguh atau hanya semakin
banyak mengeluh, kita sendiri yang mengatur.
Hari Minggu ketika dinginnya malam masuk semakin
jauh hingga menyentuh tulang, sembari berkendara melalui hambaran perkebunan teh Pagaralam, ada rasa syukur yang tertumpah. Ada haru yang tidak
lagi tertahan. Malam itu, akhirnya kami mampu menyelesaikan misi pendakian Gunung
Dempo 3159 mdpl. Titik tertinggi Sumatra Selatan.
Dempo, 28 Agustus 2022
:: Petrus Widiyanto ::



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)





.jpeg)


.jpeg)

Komentar
Posting Komentar